Senin, 25 Juni 2012

(15) Asma al-Husna : al-Ghaffaar


Asma al-Husna :  al-Ghaffaar





(15) al-Ghaffaar (Yang Maha Pengampun)

Dari nama-nama-Nya, al-Ghaafir berarti mengampuni. Sedangkan al-Ghafuur dan al-Ghaffaar berarti mengampuni dalam pengertian yang lebih mendalam lagi. Namun ketiganya, yang lebih tepat adalah al-Ghaffaar, yang berasal dari kata al-Ghafr, yang berarti ‘selubung atau tutup’.

Adapun maghfirah dari Allah Swt adalah penutupan atas dosa-dosa dan pemaafan-Nya dengan anugerah rahmat-Nya, bukan karena tobat si hamba atau ketaatannya. Ini harus benar-benar dipahami. Dalam sebuah Hadis disebutkan:

“Hamba-Ku! Andaikan engkau datang kepada-Ku dengan dosa sebanyak tanah di bumi, Kusambut kedatanganmu dengan ampunan sebanyak itu pula, asalkan engkau tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu pun”.

Dalam khabar musnad dikisahkan, ada seorang sedang disuruh masuk ke neraka. Setelah orang itu sampai pada jarak sepertiga perjalanan, ia menoleh, kemudian melanjutkan perjalanannya. Sesampai di pertengahan perjalanan ia menoleh lagi, dan setelah sampai pada jarak dua pertiga perjalanan, ia menoleh. Kemudian Allah berfirman: “Bawa kembali orang itu ke sini!” Lalu Allah bertanya kepadanya: “Mengapa kamu menoleh sampai tiga kali?” si hamba tadi menjawab: “Setelah hamba sampai di sepertiga perjalanan, hamba teringat akan firman-Mu: ‘Dan Tuhanmulah Yang Maha Pengampun lagi mempunyai rahmat’ (QS. al-Kahfi [18]: 58). Karena teringat akan firman-Mu inilah, hamba menoleh dengan penuh harapan akan ampunan dan rahmat-Mu”.

“Ketika hamba berada separoh perjalanan, hamba teringat lagi firman-Mu, ‘Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah’ (QS. Ali ‘Imran [3]: 135). Dengan firman-Mu ini semakin bertambah harapan hamba, sehingga hamba pun menoleh untuk yang kedua. Dan ketika berada di dua pertiga perjalanan terakhir, hamba ingat firman-Mu, ‘Katakan: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas atas diri mereka sendiri, janganlah kamu putus asa dari rahmat Allah’ (QS. al-Zumar [39]: 53). Sehingga semakin mantaplah harapan hamba akan ampunan dan rahmat-Mu”.

Mendengar pengakuan hamba-Nya ini, Allah pun berfirman, “Pergilah engkau! Sesungguhnya Aku sudah  mengampunimu’.

Di ayat yang lain Allah juga berfirman:

Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. al-Nisaa’ [4]: 110).

Ayat di atas mengisyaratkan keterkabulan tobat para orang tua yang sudah menghabiskan umur dan masa mudanya dalam kesalahan dan dosa. Kemudian mereka bertobat sebelum kematiannya. Karena kata tsumma (kemudian) dalam ayat di atas berarti “al-taraakhii” (penguluran, perpanjangan waktu) dan juga terkandung ke-lathiif-an lainnya. Yaitu, melakukan maksiat kepada-Nya dengan perbuatan, kemudian menaaati-Nya dengan ucapan lisan, maka Allah rela dengan hal itu. Dan ada ke-lathiif-an lain, yaitu permohonan ampunan, sehingga engkau dapati Allah berfirman: “Kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. al-Nisaa [4]: 110).

Bukanlah hal aneh, jika seorang musafir yang mencari air mendapatkan Yusuf dalam sumur, tetapi yang lebih aneh adalah seorang hamba yang bermaksiat, lalu memohon ampun, dan ia mendapatkan Allah (mengampuninya).

Ada seorang laki-laki yang selalu mengucapkan: “Tuhanku! Tuhanku! Aku terlambat!”; lalu ia memperoleh jawaban dari hatinya yang mengatakan: “Tidak! Engkau tidak terlambat! Yang terlambat itu adalah meraka yang sudah meninggal dunia dan belum bertobat”.

Dalam sebuah Hadis yang bersumber dari Sa’id al Khudri, Nabi saw. Mengisahkan kisah tobatnya seorang pembunuh 100 orang manusia.

Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri r.a katanya, Nabi s.a.w bersabda: “Seorang laki-laki dari kalangan umat sebelum kamu telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang manusia, lalu ia mencari seseorang yang paling alim. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang pendeta, ia terus berjumpa pendeta tersebut kemudian berkata: Aku telah membunuh sembilan puluh sembilan orang manusia, adakah tobatku masih diterima? Pendeta tersebut menjawab: Tidak. Mendengar jawaban itu, ia terus membunuh pendeta tersebut dan genaplah seratus orang manusia yang telah dibunuhnya. Tanpa putus asa ia mencari lagi seseorang yang paling alim. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang Ulama, ia kemudian berjumpa Ulama tersebut dan berkata: Aku membunuh seratus orang manusia. Adakah tobatku masih diterima? Ulama tersebut menjawab: Ya! Siapakah yang boleh menghalangi kamu dari bertobat? Pergilah ke Negeri si Fulan, karena di sana ramai orang yang beribadat kepada Allah. Kamu beribadatlah kepada Allah Swt bersama mereka dan jangan pulang ke negerimu karena negerimu adalah negeri yang sangat hina. Laki-laki tersebut bergerak menuju ke tempat yang dijelaskan sang ulama tadi. Ketika berada di pertengahan jalan tiba-tiba dia mati, menyebabkan Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab berselisih mengenainya. Malaikat Rahmat berkata: Dia datang dalam keadaan bertobat dan menghadapkan hatinya kepada Allah Swt. Sementara Malaikat Azab berkata pula: Ia tidak pernah melakukan kebaikan. Lalu Malaikat yang lain datang dalam keadaan berupa manusia dan mencoba menghakimi mereka sambil berkata: Ukurlah jarak di antara dua tempat. Mana yang lebih dekat, itulah tempatnya. Lantas mereka mengukurnya. Ternyata mereka dapati laki-laki tersebut lebih dekat kepada negeri yang ditujunya. Akhirnya ia diambil oleh Malaikat Rahmat" (HR. Bukhari da Muslim).

<===  To Be Continued  ===>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlangganan via E-mail

Subscribe Here

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...