Selasa, 19 Juni 2012

(8) Asma al-Husna : al-Muhaimin


Asma al-Husna : al-Muhaimin



(8) al-Muhaimin (Yang Maha Memelihara atau Maha Pelindung)

 Sebelum menelaah lebih jauh asma Allah al-Muhaimin, sebaiknya kita mencermati beberapa asma Allah di bawah ini:
Al-Raqiib al-Haafidz  : Yang selalu memperhatikan dan mengamat-amati segala sesuatu,
                                       sehingga tidak satu pun yang luput dari pengawasan-Nya.
Al-Amiin                     : Yang Maha Memberi keamanan.
Al-Syahiid                   : Yang Maha Menyaksikan.

Kata al-Muhaimin diperdebatkan, ada yang berpendapat bahwa kata ini sama dengan kata al-Mukmin, karena derivasi kata al-Muhaimin adalah al-mu’aamin. Huruf ‘a’ (hamzah) yang kedua diganti dengan huruf ‘ya’ sehingga menjadi muaimin. Selanjutnya huruf ‘a’ (hamzah) yang pertama diubah menjadi haa’ sehingga menjadi muhaimin. Jika pendapat ini diterima, maka makna dari muhaimin sama dengan mu’min yang sudah kami jelaskan sebelumnya. Tetapi, pendapat lain mengemukakan bahwa derivasi kata ini adalah ‘ haimana –yuhaiminu’ yang artinya memelihara, menjaga, mengawasi dan menjadi saksi terhadap sesuatu serta memeliharanya.

Idealnya, mereka yang telah mengenal nama Allah al-Muhaimin harus menjadi seorang yang pemalu, merasa dirinya kecil, terhadap pengetahuan dan penglihatan-Nya atas dirinya. Inilah muqarraabah, yakni yang memperhatikan serta mengamat-amati segala sesuatu dan tiada satu pun yang luput dari pengawasan-Nya.

Dikisahkan bahwa Ibrahim ibn Adham pada suatu malam setelah selesai mendirikan salat, duduk-duduk santai sambil menjulurkan kedua kakinya ke depan. Lalu terdengar suara hatinya yang mengatakan: “Apakah begini caramu duduk semajelis bersama raja-raja?”

Hal yang sama dengan Ahmad al-Jariri yang tidak pernah satu kali pun menjulurkan kedua kakinya di kala khalwat (penyepian)-nya, dan mengatakan: “Menjaga adab bersama Allah Swt adalah lebih baik dan utama”.


Note:

Istilah khalwat seringkali diartikan secara negative oleh sebagian pemikir-pemikir Islam. Padahal khalwat merupakan kesempatan bagi seseorang untuk berdialog dengan dirinya sendiri yang selama ini terabaikan. Ini merupakan kesempatan untuk membiarkan suara hatinya menasehati dirinya sendiri. Suara hati kita tak pernah berbohong, karena sejak awal ia sudah diberi futrah hanya mengatakan sesuatu yang benar dan membenci sesuatu yang salahatau menyimpang dari jalan Allah – penerj.  


<===  To Be Continued  ===>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlangganan via E-mail

Subscribe Here

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...