Jumat, 15 Juni 2012

(6) Asma al-Husna : al-Salaam

 Asma al-Husna : al-Salaam



(5) al-Salaam (Yang Maha Sejahtera)

Yang memiliki kesejahteraan dan keselamatan; Yang memberi tuntunan kepada manusia, agar menyucikan-Nya dari segala kebinasaan dan kerusakan, serta menyucikan-Nya penyamaan dengan sifat-sifat makhluk.

Al-Salaam juga berarti Maha Penyelamat bagi para makhluk dari siksa-Nya. Ini sejalan dengan Hadis:

Dari Abdullah ibn Amr al-‘Ash berkata: “Seseorang bertanya kepada Rasullullah Saw:
Manakah Muslim yang terbaik?”  Rasulullah Saw bersabda: “ Seseorang yang menyelamatkan orang-orang Islam dengan dari lidah dan tangannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di sisi lain, lewat asma-Nya ini juga mengindikasikan bahwa Dia memiliki Salam Kesejahteraan atas wali-Nya, sebagaimana firman-Nya; Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih” (QS. Al-Naml [27]: 59).

Dikisahkan, di kalangan sufi ada yang melihat seseorang mengumpat orang lain. Kemudian si pengumpat ditanya: “Apakah Anda pada tahun sekian ikut serta berjuang membela tanah air dari serangan musuh?” Dijawab oleh si pengumpat: “Tidak”. Sufi itu pun melanjutkan: “Bagaimana musuh-musuhmu dapat selamat darimu, sedang saudaramu seagama dan setanah air tidak?”

Pernah ditanyakan kepada para sufi tentang al-wara’, mereka menjawab: “Tuntutlah sifat ini pada dirimu, sebagaimana orang kikir menuntut sesuatu yang tidak berari pada rekan seperdagangannya dengan bertengkar dan berbantah”.

Dapat ditegaskan di sini bahwa mereka yang telah mengenal nama al-Salaam, hendaknya kembali secara total kepada Pelindungnya dengan hati Saliim (selamat sejahtera dari bahaya). Hati saliim (qalbun saliim) adalah hati yang bersih dari dengki dan tipu muslihat, dendam dan hasut. Tidak menyimpan suatu perasaan atas sesama Muslim, kecuali perasaan tulus ikhlas, saling menasehati dan mengutamakan kebenaran. Berpikir positif (positive thingking) terhadap sesama manusia, dan berburuk sangka pada dirinya sendiri. Artinya, ia lebih suka menyelidiki dirinya sendiri lebih dahulu sebelum menyelidiki orang lain.

Di samping itu, mereka yang mengenal asma Allah ini, juga memperlakukan dengan baik hamba Allah yang usianya lebih tua. Karena yang lebih tua biasanya orang-orang yang sudah arif dengan Allah dan terlebih dahulu taat dibandingdirinya yang masih muda. Ia juga memandang yang lebih muda dengan cara yang baik pula, karena maksiat yang dilakukannya masih belum seberapa dibandingkan dengan maksiat yang dilakukan dirinya.

Karena itulah, para guru sufi senantiasa menasehati: “Apabila tampak bagimu suatu aib pada saudaramu, hendaklah engkau mencarikan tujuh puluh pintu alasan guna menutupi aibnya. Dan apabila jelas-jelas tidak ada aib pada saudaramu, maka kembalikanlah celaan itu pada dirimu sendiri dan katakana: Wahai diriku! Alangkah jeleknya engkau; engkau tidak akan menerima satu alasan pun guna menutupi aibmu dari saudaramu”.

Diriwayatkan, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Apakah salah seorang di antara kalian tidak berkesanggupan menjadi seperti Abu Dhamdham? Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah! Siapakah Abu Dhamdham itu?” Jawab Nabi: “Ia adalah seorang laki-laki yang apabila keluar dari rumahnya selalu mengatakan ‘Ya Allah! Susungguhnya aku sedekahkan kehormatanku atas hamba-hamba-Mu”.

Maksudnya, jika ada orang lain yang mencela atau mencaci-maki dirinya ia tidak membalas balik cacian itu.

Note:
Wara’ dalam kamus didefinisikan sebagai menahan diri dari hal-hal yang tidak pantas dan sia-sia, serta menjauhkan diri secara ketat dari hal-hal yang haram dan terlarang, atau menjauhkan diri dari hal-hal yang meragukan. Prinsip Islam, “Tinggalkan apa-apa yang meragukan dirimu dan ambillah apa-apa yang tidak engkau ragukan”. Ucapan Nabi, “Yang halal adalah jelas dan yang haram juga jela,” merupakan penjelasan basis wara’. Penulis Pandname, Aththar menjelaskan prinsip wara’ dengan cara yang sangat indah:

Wara’ membangkitkan rasa takut kepada Allah,
Orang tanpa wara’ jatuh dalam kehinaan
Siapa saja yang mengikuti jalan wara’ dengan benar,
Apa pun yang dia lakukan adalah semata-mata demi Allah
Orang yang menginginkan cinta dan persahabatan dengan Allah,
Tanpa wara’ pernyataan cintanya adalah palsu.
(Sumber: M. Fethullah Gulen, Kunci-kunci Rahasia Sufi [Jakarta: Sri Gunting, 2001, hlm. 91-92) – penerj.

<===  To Be Continued  ===>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlangganan via E-mail

Subscribe Here

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...